Aneka Ilmu

Thursday, January 30, 2014

Kuda Liar Milik TNI AU : OV-10F Bronco

 

Kuda Liar Milik TNI AU : OV-10F Bronco

 
Ulah GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) kerap harus dihadapi dengan tindakan tegas, salah satunya dengan opsi militer. Nah, dari sekian banyak cara untuk mematahkan aksi GPK, boleh jadi harus mencontoh kehebatan pesawat tempur OV-10F Bronco, sebagai pesawat dengan turbo propeller (baling-baling), Bronco sangat pas untuk misi anti gerilya dengan kecepatan yang tak terlampau tinggi, pas untuk ”menghabisi” secara akurat titik-titik konsentrasi pasukan gerilya GPK.

Bronco saat melepaskan roket FFAR
Bronco saat melepaskan roket FFAR

Bronco tergolong pesawat yang punya reputasi tempur tinggi, tak cuma di kancah perang Vietnam, di Indonesia sendiri pesawat yang dijuluki ”Kampret” ini punya reputasi yang memukau dalam banyak medan tempur. Kiprah terbesarnya tak lain saat memberikan BTU (bantuan tembakan udara) saat operasi Seroja melawan pasukan Fretilin di Timor-Timur, kemudian Bronco juga terlibat aktif dalam mendukung operasi penumpasan GPK Aceh Merdeka. Dan masih banyak operasi lain yang melibatkan Kuda liar ini.

OV-10F Bronco TNI-AU
OV-10F Bronco TNI-AU
Bronco dihadirkan oleh TNI-AU sebagai pengganti P-51 Mustang si ”Cocor Merah” yang masuk dalam usia pensiun di era tahun 70-an. Bronco dipandang sesuai untuk melakukan operasi pertempuran di dalam negeri, khsusunya untuk meredam pemberontakan yang marak muncul di Tanah Air. Hal ini disebabkan persenjatan Bronco memang dirancang untuk anti personel. Yakni berupa empat pucuk senjata kaliber 12,7 mm di tiap-tiap sponson-nya (merupakan modifikasi, bersi awalnya Bronco menggunakan senjata M60 kaliber 7,6 mm), kemudian lima buah station dibawah fuselage bomb untuk segala fungsi dan berat, mulai dari bom 100 Kg sampai 250 Kg jenis ZAB, MK-28, OFAB dan bisa disiapkan dengan peluncur roket FFAR.

P-51 musttang yang di musiumkan
P-51 musttang yang di musiumkan

Untuk melindung pilot dan navigator dari terjangan peluru lawan, canopy depan dan lantai dasar Bronco dibalut lapisan anti peluru. Bronco juga punya kemampuan untuk menerjunkan pasukan. Dari semua negara pengguna Bronco, termasuk US Air Force dan US Navy, baru Indonesia yang pernah melaksanakan dropping pasukan. Salah satunya pernah diadakan ”combat free fall” dengan jumlah empat orang dari ”pantat” Bronco. Untuk misi jarak jauh, kompartmen di bagian ”pantat” bisa disulap sebagai tanki bahan bakar, seperti digunakan saat penerbangan ferry Bronco dari AS menuju Indonesia.

Penerjunan pasukan dari "pantat" Bronco
Penerjunan pasukan dari "pantat" Bronco

Jumlah Bronco yang dimiliki TNI-AU total ada 16 unit. Pada awal kehadirannya Bronco masuk dalam skadron 3, kemudian berpindah menjadi warga skadron 1 pembom. Seiring waktu berjalan dan pengabdian, jumlah Bronco terus berkurang hingga hanya layak disebut sebagai ”unit” dan nasibnya terselamatkan dengan pembentukan skadron udara 21. Ada kabar sebelumnya bahwa Thailand akan menjual 20 Bronco kepada Indonesia, tapi hingga kini belum ada realisasi lebih lanjut
.
Manuver dua Bronco saat melintas
Manuver dua Bronco saat melintas

Dengan usia terbang yang lebih dari 30 tahun, membuat terbang Bronco lumayan berisiko, terakhir sebuah Bronco jatuh pada bulan Juli 2007 di area persawahan di kota Malang, dua awaknya dilaporkan tewas. TNI-AU pun tengah menunggu untuk mendapatkan pengganti Bronco, kandidat yang diajukan adalah EMB-314 Super Tucano dari Brazil dan KO-1 dari Korea Selatan.

OV-10 Bronco US Marine, dilengkapi radar dan sensor kamera yang bisa berotasi
OV-10 Bronco US Marine, dilengkapi radar dan sensor kamera yang bisa berotasi

Dengan kecepatan terbang yang rendah, Bronco pas untuk aksi COIN (Counter Insurgency), tapi bisa jadi buah simalakama bila menghadapi senjata penangkis serangan udara. Dengan kecepatan terbang yang rendah Bronco bisa jadi santapan empuk meriam dan rudal anti pesawat. Hal inilah yang menjadi kendala Bronco saat beraksi dalam perang Vietnam.

aksi bronco pada perang vietnam
aksi bronco pada perang vietnam

Sampai perang Teluk di tahun 1992, Bronco tetap eksis digunakan oleh US Marine sebagai pesawat intai. Berbeda dengan Bronco milik TNI-AU, Bronco milik US Marine dilengkapi alat pengintai canggih, kamera terintegrasi, radar, FLIR (Forward Looking Infrared) dan lebih hebat lagi Bronco US Marine bisa menggotong rudal udara ke udara Sidewinder. Sayang Bronco TNI-AU tak sempat di upgrade untuk persenjataan lebih canggih. Selain Indonesia, Bronco juga dipakai oleh Jerman, Thailand, Venezuela dan AS tentunya.

bronco milik us marine
bronco milik us marine

Spesifikasi OV-10F Bronco
Produsen : North American, Rockwell Internationa
Kru : 2
Lebar sayap : 12,9 meter
Tinggi : 4,62 meter
Berat kosong : 3,127 Kg
Berat Max Take off : 6,522 Kg
Mesin : 2 x Garret T76 G-410/412 turboprop, 715 hp (533 kW) each
Kecepatan Max : 452 Km / jam
Jarak Tempuh : 358 Km

Sunday, January 26, 2014

Modernisasi Alutsista TNI


Menhan Purnomo secara lantang menyatakan pada event penyerahan 3 pesawat tempur Sukhoi SU-27 di Makassar tanggal 27 September 2010 lalu: Untuk membangun pertahanan negara membutuhkan anggaran yang cukup besar, namun besarnya biaya itu tidak semahal dengan kehormatan dan harga diri bangsa.  Negara yang besar harus didukung dengan pertahanan yang kuat agar bangsa ini tidak dirongrong, baik dari dalam maupun dari luar. Untuk membangun kekuatan udara NKRI, Indonesia akan melengkapi skuadron  tempurnya dengan 10 skuadron dengan kekuatan 180 pesawat tempur Sukhoi buatan Rusia untuk 10 tahun kedepan.

Foto Seusai Penyerahan Sukhoi Di Makasar

Statemen ini seperti petir di siang bolong  yang  membuat petinggi militer negara tetangga terutama Malaysia, Singapura dan Australia menjadi gerah dan gelisah.  Selama pekan-pekan ini semua situs militer dan forum militer di dunia maya berdiskusi hangat membahas pembangunan kekuatan militer Indonesia secara besar-besaran. Kalimat utamanya adalah kaget, ada apa gerangan, mengapa tiba-tiba, mau dibawa kemana hubungan kita (kata Armada Band), lalu mereka  mulai berhitung ulang dengan inventory arsenalnya.



Geliat perkuatan militer Indonesia secara terpadu mulai terlihat ketika kasus Ambalat pada tahun 2005 menghina harga diri bangsa oleh sebuah negara yang mengaku serumpun tapi arogan, Malaysia.  Sesungguhnya itulah titik awal kebangkitan militer Indonesia bersamaan dengan tekad TNI menjadi tentara profesional pengawal NKRI dan tidak lagi terjun dalam dunia politik dalam negeri yang belum dewasa dalam berdemokrasi sampai saat ini.

Pemberangkatan Pasukan Penjaga Perbatasan

Belakangan pembangunan kekuatan militer China, India dan Australia menjadi sebab utama mengapa negara kepulauan ini harus memperkuat tentaranya dengan arsenal modern. Menhan Purnomo mengatakan belanja alutsista Indonesia selama lima tahun ke depan berjumlah US$ 16,7 milyar atau setara dengan Rp 150 trilyun, sebuah angka yang fantastik yang mampu membangunkan rasa percaya diri bagi seluruh anak bangsa yang cinta NKRI.  Pemerintah oke, DPR  juga, apalagi kalau rakyat ditanya dijamin pasti setuju banget.  Soalnya selama satu dekade ini kalau bicara alutsista kesan dan pesannya mirip lagu nelongso, minim anggaran, terbentur anggaran, prioritas ekonomi, harus banyak puasa aparat TNI sambil mengelus dada. Sabar ya nduk, kata bapak kandungnya TNI, ya rakyat, ya pemerintah.   Nah sekarang TNI sudah berbuka puasa dan menunya sangat beragam, ada PKR, ada Sukhoi, ada Kapal Selam, ada Rudal, ada Panser, bermacam-macam dah.

Kapal Kelas PKR buatan PT PAL

Apa yang bisa dibelanjakan dengan duit 150 trilyun rupiah itu dalam lima tahun ke depan.  Pasti banyak dong dan plaza atau mall arsenal berbagai negara pada sibuk menjajakan diri untuk kerjasama, kerja bareng dan kerja repot menghabiskan dana segar dan banyak itu.  Namanya juga gula, pasti banyak semut berdatangan dengan wajah manis untuk kerja bareng memproduksi alutsista di tanah air atau menawarkan produknya yang terbaru.

Kalau kita berandai-andai, setidaknya inilah arsenal yang segera mengisi  depot-depot militer Indonesia  sampai tahun 2015:


Alutsista Utama  TNI AU :
  • 4 Skuadron (64 unit) Sukhoi
  • 2 Skuadron (32 unit) F16
  • 2 Skuadron (36 unit) Hawk100/200
  • 1 Skuadron (12 unit) F5E
  • 1 Skuadron (16 unit) Super Tucano
  • 1 Skuadron (16 unit) Yak 130
  • 2 Skuadron ( 36 unit ) UAV
  • 4 Skuadron (64)Hercules
  • 7 Batteray Hanud Area
Modernisasi Alutsista AU

Alutsista Utama Angkatan Laut :
  • KRI  PKR Fregat  32 unit
  • KRI Korvet  56 unit
  • KRI Kapal Cepat Rudal 82 unit
  • KRI Kapal Patroli  Cepat  87 unit
  • KRI Kapal Selam 6 unit
  • KRI logistik dan angkut pasukan  LPD, LST 48 unit
 Modernisasi alutsista tni AL

Kekuatan armada angkatan laut akan ditambah menjadi 3 armada yaitu Armada Barat berpusat di Tanjungpinang, Natuna dan Belawan, Armada Tengah berpusat di Surabaya, Makassar dan  Tarakan,  Armada Timut berpusat di Ambon Merauke dan Kupang.  Kekuatan Marinir diproyeksi akan mencapai 60 ribu pasukan dan disebar diberbagai pangkalan angkatan laut.  Kekuatan persenjataan marinir meliputi 350 Tank BMP 3F terbaru, 175 Tank amphibi eksisting, 320 panser amphibi eksisting, 800 rudal QW3, 40 RM Grad, 75 Howitzer.

Tank Amphibi BMP-3F Marinir

Alutsista Utama Angkatan Darat :
  • Pasukan Kostrad  3 divisi
  • Pasukan  Pemukul Kodam  150 Batalyon
  • Main Battle Tank  200 unit ditempatkan di Kalimantan dan NTT.
  • Panser Pindad  APC 540 unit  untuk batalyon infantri mekanis
  • Panser Canon 320 unit
  • Meriam dan Howitzer artileri  890 unit
  • Roket NDL  720 unit
  • Tank dan Panser eksisting berjumlah 750 unit.
  • 20 Heli tempur Mi35
  • 26 Heli angkut Mi17
  • 95 Heli tempur jenis lain
  • 1300 Rudal anti tank
  • 60 Hanud titik dengan rudal terbaru
  • 700 Rudal strategis Pindad-Lapan
Modernisasi-_Alutsista_AD

Angkatan Udara dan Angkatan Laut adalah yang terbesar menyerap alokasi anggaran alutsista mengingat  banyaknya alutsista yang dibangun dikembangkan dan dibeli dengan teknologi terkini.  Pembuatan 10 PKR light Fregat yang sedang dibangun PT PAL setidaknya menghabiskan dana  US $ 2,5 milyar.  Pembuatan 4 kapal selam ditaksir menghabiskan dana US $2 milyar.  Tambahan skuadron tempur Sukhoi dan F16 berikut arsenalnya diprediksi menyerap anggaran US $ 6 milyar.

Pembelian Kapal Selam Jenis Kilo

Angkatan Udara akan menempatkan skuadron-skuadron tempurnya di Medan   (1 skuadron F16), Pangkal Pinang  (1 Skuadron Sukhoi) dan Madiun (2 Skuadron Sukhoi).  Eksisting  yang sudah ada 1 Skuadron Sukhoi di Makassar, 1 Skuadron F16 di Madiun, 1 Skuadron F5E di Madiun, 1 Skuadron Hawk di Pekan Baru dan 1 Skuadron di Pontianak.  Dengan masuknya arsenal baru terjadi pergeseran lokasi skuadron, Tarakan mendapat 8 SuperTucano dan 8 Hawk, Malang 8 SuperTucano, Yogya 16 Yak130.   Skuadron F16 di Madiun digeser ke Kupang dan F5E digeser ke Biak dan Timika.

F-5E tiger TNI AU

Membaca peta arsenal ini saja jiran sebelah terutama Malaysia, Singapura dan Australia dijamin berkeringat apalagi jika lima tahun ke depan sudah menjadi kenyataan, bisa-bisa tak bisa tidur mereka.  Namun bagi sebuah negara besar seperti NKRI, wajar saja diperlukan alutsista dalam jumlah besar untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan bangsa, agar negara lain tidak terus menerus meremehkan kekuatan pengawal republik kita.  Yang jelas dalam pembangunan kekuatan milter ini semuanya ditujukan untuk mempertahankan kedaulatan NKRI dari ancaman pihak manapun, setidaknya mereka akan berhitung ulang jika ingin melecehkan teritori Indonesia.

KRI
rapur Anoa
F-5E Tiger
Rantis komodo
Sukhoi TNI AU
F-16 Fighting Falcon
MBT Leopard

Thursday, January 23, 2014

Kekuatan Militer Indonesia VS Malaysia Di Ambalat

Adu Kuat dengan Tetangga di Ambalat




Ada situasi yang berubah di perairan Ambalat, Nunukan, kalimantan Timur akhir- akhir ini. Tidak ada kapal TDLM yang mengganggu atau melakukan provokasi mendekati Suar di karang Unarang. Tidak ada pula pesawat Malaysia yang terbang melintas, mencoba memanas-manasi anggota TNI yang berpatroli. Yang tampak hanya kumpulan burung melayang memburu ikan yang berenang.
Sementara Bendera Merah Putih kokoh berkibar di Menara Karang Unarang tertiup angin.




Situasi damai ini ada penyebabnya. Armada kapal perang RI yang bertugas di Ambalat, telah dilengkapi rudal Yakhont buatan Rusia serta rudal C-802 buatan China. Kedua rudal ini bisa jadi meningkatkan daya gertak terhadap semua ancaman. Betapa tidak, rudal Yakhont mampu melumat sasaran berjarak maksimum 300 km. Rudal di KRI Oswald Siahaan ini sangat besar, panjang 8,9 meter dengan diameter 0,7 meter. Mampu melesat pada kecepatan Mach 2,5 dengan bobot luncur tiga ton. Tampaknya belum ada Kapal Perang di Asean yang bisa mengatasi rudal yakhont. Malaysia memesan rudal ini ke Rusia, namun belum memiliki kapal yang bisa dipasang rudal Yakhont.

rudal yakhont pada kri oswald siahaan

Untuk sasaran lebih dekat, KRI di Ambalat dilengkapi Rudal C-802 yang mampu menggasak sasaran kapal permukaan, hingga 120 km. Rudal C-802 menuju sasaran dalam ketinggian 5-7 meter di atas permukaan laut dengan kecepatan Mach 0,9.

Rudal C802 300x225 Adu Kuat dengan Tetangga di Ambalat

KRI yang disebar di Ambalat juga dilengkapi beragam jenis torpedo, rudal Harpoon, dan Exocet, meriam 120 mm, 76 mm, 57 mm, 40 mm, 20 mm. Selain itu ada bom laut, RBU-6000, ASRL/ASROC, Mistral dan sebagainya. Seluruh rudal ini telah lolos ujicoba tahun 2011 lalu.

RBU-6000 kapal KRI Tjiptadi

Ancaman potensial dari Malaysia adalah kapal selam modern Scorpene Perancis yang baru dibeli. Untuk itu TNI menempatkan CN-235 MPA yang dipersenjatai dan bertugas mendetkesi kapal selam sekaligus mengunci target dengan misil. CN-235 MPA menggunakan alat pendeteksi kapal selam dari Perancis, karena kapal selam Scorpene Malaysia, buatan Perancis.

kri oswald siahaan2 Adu Kuat dengan Tetangga di Ambalat

Sebagai pertahanan udara, personil di Ambalat dan Karang Unarang, dilengkapi berbagai misil, tergantung kesatuan mereka. Ada misil QW-3 milik TNI AU, Strella, Igla, Mistral milik TNI AL, Gian tbow, Zur-kg, TD-2000b , SA-7 Skyshield,dan S-60.

misil mistral tni al

Indonesia juga menyiapkan pesawat peringatan dini boeing 737 awe&c, skuadron UAV di Pontianak, serta Heli tempur MI-35.


helikopter MI-35

Untuk urusan anti kapal selam, KRI Cakra-401 telah melakukan uji tembak senjata taktis Torpedo SUT (Surface and Underwater Target) yang menghantarkan eks KRI Karang Galang ke dasar laut. Kapal ini juga menjadi sasaran tembak rudal C-802 yang diluncurkan KRI Layang-805.

KRI cakra

Torpedo SUT yang menjadi senjata andalan kapal selam KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402, dibuat oleh PT DI, hasil alih teknologi dari Korea Selatan. Torpedo berbobot 1,4 ton dengan hulu ledak 260 Kg, mampu menjangkau sasaran tembak efektif maksimal 40 Km.

torpedo SUT kapal nanggala

Selain rudal Yakhont yang sudah terpasang, kini Indonesia mematangkan rudal empat tingkat RX-420 LAPAN yang telah uji tembak di Pameungpeuk, Garut-Jawa Barat. Pameungpeuk, tempat bersejarah bagi sistem rudalIndonesia, karena dari tempat ini rudal pertama Indonesia, Kartika ditembakkan ahli TNI-AD, ITB dan teknisi Uni Soviet di Jaman Bung Karno.

RX-420 lapan

Sebelum ditembakkan di Garut, rudal tersebut dipelajari di Lanud Kalijati, Subang- Jawa Barat. JIka anda ingin melihat, seperti apa struktur rudal/SAM Rusia, silahkan datang ke Kalijati, jika diizinkan Komandannya,,, hehehee

 
Design by Dek Aswin | Bloggerized by Aswin Bahar Setiawan - Dek Aswin | The Site Of Aswin Bahar Setiawan